Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek PAK
dalam tokoh Yohanes Amos Comenius dan
Peztalozzi
Matakuliah : Pemimbing PAK I
Nama Kelompok : 1.Clara
Raflesiane
2.
Yoanti Rebeka Indriyani
Dosen Pemimbing : Ibu Janse Belandina Non
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA
KRISTEN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
2015
KATA
PENGANTAR
Kami ucapkan puji syukur kepada Tuhan
atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat sehingga kami dapat menyelesaikan
maklah tentang perkembangan usia khusus dalam perahlian. Makalah ini telah kami
susun dengan maksimal, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Dan harapan kami semoga makalah
ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca. Untuk kedepannya
dapat memperbaiki bentuk maupun menabahkan lebih baik lagi.
Karena
keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami. Kami yakin masih banyak
kekurangan makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL......................................................................................................
i
KATA PENGANTAR.....................................................................................................ii
DAFTAR
ISI...................................................................................................................iii
BAB I Yohanes
Amos Comenius 1
A.
Riwayat
Hidup...................................................................................1
B.
Dasar
Pendidikan...............................................................................1
C.
Asas Pendagogis................................................................................2
BAB II Johann
Heinrich Pestalozzi......................................................................3
A.
Riwayat
Hidup...................................................................................3
B.
Dasar
Pendidikan...............................................................................4
C.
Asas
Pendidikan................................................................................5
PENUTUP
BAB II
Yohanes Amos Comenius (Komensky)
Bapak Pendidik Modern
A. Riwayat Hidup
Keluarga Comenius berasal dari desa yang bernama
Komna. Yohanes lahir pada tanggal 28 Maret 1592 di Nivnice. Ayahnya bernama
Martinus Komensky, pemilik pengilinggan gandum, dan seorang warga saleh dalam
persaudaraan Morawi. Ibu nya bernama Anna, akan tetapi saat umur Yohanes
sepuluh tahun ia harus keliangan ayahnya karena wabah pes turun. Ia mempunyai
istri bernama Magdeline Vioska yang berasal dari keluarga terhormat. Tahun
berikutnya ibu yang kekasih meninggalkan nya pula. Saat Yohanes berumur 16
tahun, ia studi di Prerov yang diselenggarakan oleh Gereja Persaudaraan Morawi.
Selama di Prerov, Yohanes mengambil keputusan untuk menjadi seorang pendeta.
Pangeran Zerotin, kepala pemerintah Morawi menyediakan beasiswa baginya.
Tanggal 30 Maret 1611 Comenius dan eman pelajar
lainnya meneruskan studi perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh gereja
Reformasi terletak di kota Herborn. Setelah belajar dua tahun di Herborn ia
berlibur, setelah itu ia mencalonkan diri sebagai mahasiswa pada Universitas
Calvin. Prof. Daud Pareus, dosen yang tidak mengenal lelah dalam usaha
memperdamaikan semua pihak agama Kristen yang saling bertengkar. Usaha Pereus
ini mendorong Comenius untuk berbuat demikian sepanjang kehidupan
profesionalnya.
Comenius menganggap terlampau muda untuk ditahbiskan
sebagai pendeta, maka ia diangkat menjadi rektor di Prerov, alma maternya. Dua
tahun sesudah ia ditahbiskan, gereja melantiknya sebagai pendeta jemaat dan
kepala sekolah di Fulnek. Mengingat Comenius lanjut usia, yakni 64 tahun, agak
susah baginya untuk memulai kehidupan kembali dari nol. Dari bencana berat yang
ia sudah alami sepanjang umurnya. Comenius, pelopor perdamaian melalui
pendidikan, tutup mata pada tanggal 4 November 1670 di kota Amsterdam dan
dikembumikan di pekuburan jemaat di kota Naarden. Dari sudut banyak pendidik
zaman modern, Comenius menduduki tempat paling utama dalam sejarah ilmu
pendidikan.
B. Dasar Pendidikan
Comenius berpendapat bahwa pendidikan yang ia maksud
selayaknya dinamakan pendidikan agama Kristen, karena nilai-nilainya berporos
pada iman Kristen. Ada dua dasar yang menjadi teori dan pandangan pendidikan,
yaitu ;
1.
Dasar Teologi
Iman dan pandangan terhadap teologi menjadi darah
daging pikirannya tentang pendidikan dan cara ia mengamalkannya diruang
sekolah, bukan sebagai sarana untuk meraih baginya kekuatan duniawi secara
pribadi, melainkan untuk mengatasi pecahan yang tampak dalam masyarakat.
Manusia adalah ajaran teologi kedua yang menyoroti
pandangan Comenius tentang pendidikan. Gereja, persekutuan orang yang percaya
bukan hanya dengan pengakuan lisan saja, melainkan dengan pengakuan tingkah
lakunya, ini termasuk pokok teologi yang penting bagi Comenius. Hal yang perlu
kita catat, yaitu pandangan Comenius, hatinya tertangkap oleh Firman Allah.
Comenius tidak meolak perbuatan duniawi karena justru itulah yang akan
dijunjung tinggi dalam usaha mengembangkan teori dan praktek pendidikan
termasuk pendidikan agama Kristen. Dalam prakterk dan pikiria Comenius tentang
teologi yang dipukuk oleh Persaudaraan Morawi tampak keyakinan tentang perlunya
mengamalkan Firman Allah dalam paguyuban yang belajar-mengajar.
2.
Pengalaman
Pribadi
Pada waktu tentara Spanyol membabi-buta di kita
Fulnek oada tahun 1620, Comenius mengalami keganasan tidakan dari pihak warga
Kristen, hanya karena ia dan gerejanya mengaku iman Kristen yang berbeda. 45
tahun lamanya Comenius harus hidup sebagai pengungsi di tanah asing karena
gerejanya menolak hak kekuasaan politis dan gerejawi dari pihak Katolik Roma
untuk berkuasa dinegerinya. Comenius seorang pendidik pertama sejak
Quintullianes yang mencurahkan begitu banyak ternaga demi kepentingan pendidik.
Walaupun pengalaman Comenisu menimbulkan oandangan
pesimis, namun iman turut mendorongnya untuk menolak jalan buntu. Sebagai jalan
keluarnya ia memberanikan untuk menganjurkan wawasan pedagogis yang meyakinkan.
3.
Pemikiran
Analogis
Comenius
mengasilkan metode pedagogis yang berporos pada usaha meniru proses alamiah. Ia
cendering berpikie secara analogis dan bukan ilmiah, meskipun ia merasa bahwa
pendekatan yang ia pakai sesuai dengan asas-asas yang digambarkan Bacon. Untuk
mengahargai pendekatan Comenius, pertama-tama ia menyebutkan asas berdasarkan
irama alam. Kedua ia menunjukkan bagaimana asas itu dilalaikan oleh para
pendidik. Ketiga usaha untuk menerapkan asas alam dalam kebutuhan yang khusus
pedagogis.
C. Asas-asas Pedagogisnya
1) Tujuan Pendidikan Umum/Pendidikan Agama Kristen
Comenius ingin mengembangkan semua kemungkinan yang
tersirat dalam jati diri manusia sebagai makhluk yang diciptakan segambar dengan
Allah. Tujuan nya untuk mencapai tiga prestasi, yaitu pengetahuan/pengertian,
kebijakan dan kesalehan. Tujuan umum dan tujuan kulikuler tidak berporos pada
pokok pengetahuan iman yang perlu dihafalkan oleh anak didik. Maka tujuan
Comenius berporos pada hidup kristiani. Hasil belajar formal, pelajar hendaknya
,mengetahui dan memahami dunia nyata untuk hubungan sehari-hari.
2) Lingkungan Luas Pendidikan
Dalam pemikiran dan praktek Comenius kehidupan
manusia dibagi menjadi tujuh tahap;
1.
Waktu bayi ada
di dalam rahim ibu
2.
Kelahiran dan
masa bayi
3.
Masa kanak-kanak
4.
Masa remaja
5.
Masa pemuda
6.
Masa dewasa
7.
Masa lanjut usia
Dalam wawasan pedagogis Comenius
mesti ada sekolah berangsur-angsur menyempurnakan. Setiap sekolah hendak
menjadi masyarakat-mini yang mencangkup satuan ekonomis “ negara kecil “ yang
diselenggarakan secara demokratis. Walaupun gagasan Comenius belum terwujud,
tetapi ia menentukan sasaran tentang sifat masyarakat berdasarkan pendidikan
umum yang disoroti oleh iman Kristen.
3) Pengajar
Comenius mengangap bahwa Allah adalah pengajar
utama. Secara logis nya pengajar selanjut nya ialah ; orang tua, guru dan
masyarakat termasuk sekolah dan persekutuan Kristen. Comenius sadar akan
ketidakmampuan orangtua unyuk mendidik anak dalam semua hal yang diperlukan.
Untuk itu ada sekolah, tetapi mjenyerahkan anak kepada mimbingan guru, orangtua
masih bertanggung jawab untuk mengurus pendidikan anaknya. Peranan rekan yang
mendidik secara tak sengaja dipetinggi, kalau guru menentukan suasana belajar
psoitif yang memperlancar parisipasi semua anak dalam pengalaman belajar.
4) Pelajar
Semua orang harus mencapai sasaran yang sama, yakni
untuk memenuhi jati diri yang Allah sudah tentukan baginya sejak semula.
Apabila semua anak di didik, maka semua akan diperlengkapi dengan segala sesuatu
yang perlu untuk berpikir, memilih, mengikuti serta berbuat hal-hal yang baik.
5) Kurikulum
Comenius menganjurkan kurikulum mulai dari Sekolah
Bayi dan akhirnya bagi pemuda.
a.
Kurikulum bagi
Sekolah Bayi
Apabila orangtua
memulai pendidikan bagi anak-anak sebelum menyerahkan pengawasan kepala
sekolah, waktunya sudah terlambat. Ruang lingkup terdiri atas lima pokok:
kesalehan, akhlak baik dan kebajikan, pengetahuan dasariah, tindakan dan
ucapan.
b.
Kurikulum untuk
Sekolah Kanak-kanak
Comenius menganjurkan
12 tujuan kuriler yang hendaknya dicapai anak sebagai hasil belajar enam tahun
di Sekolah kanak-kanak;
i.
Membaca bahan
tertulis
ii.
Menulis
pelan-pelan
iii.
Menghitung
sesuai dengan keperluan praktis
iv.
Mengukur ruangan
dengan baik
v.
Menyanyikan lagi
terkenal
vi.
Menghafalkan
mazmur yang sedang dipakai digereja
vii.
Menghafalkan
ayat dan cerita dari alkitab
viii.
Mempelajari
asas-asas kesusilaan
ix.
Mengetahui
ekonomi dan politik
x.
Mempelajari
sejarah dunia umum
xi.
Mengetahui
fakta-fakta paling oenting
xii.
Mempelajari
peralatan mekanis
c.
Sekolah Remaja
Pendekatan Comenius
bagi sekolah remaja berubah sedikit, ruang lingkupnya tidak diucapkan sebagai
kata kerja lagi, tetapi kata benda. Comenius memakai struktur yang selaras
dengan uritan peristiwa dan pokok yang termuat dalam Alkitab. Misalnya, pelajar
pertama adalah “Allah” dan terakhir “Penghakiman Terakhir”
d.
Kurikulum untuk
Perguruan Tinggi
Pertama, mencangkup
semua bidang pengetahuan. Kedua, orang yang mampu dalam bidangnya
masing-masing. Ketiga, mesti ada perpustakaan. Keempat, menghasilkan calon
sarjana. Para tamatan perguruan tinggi harus mempunyai pengetahuan dalam ilmu
tertentu dan mengakui cara menambah pengetahuan melalui kebijaksanaan dan bukan
hanya pengetahuan dan keterampilan tertentu saja.
e.
Metodologi
Metodologi merupakan
kunci untuk pengelaman belajar-mengajar disekolah. Untuk membahas pikirannya,
dibagi atas dua bagian, yaitu asas-asas dasariah dan penerapannya dalam ruang
kelas.
BAB III
(
Pendiri Sekolah Dasar MODERN)
A.
Riwayat
Hidup (1746- 1827)
Johann
Heinrich Pestalozzi lahiir dan dibesarkan di Zurich. Keadaan persekolahan, bagi
kehidupan Pestalozzi yang lahir pada tanggal 12 Januari 1746 di Zurich. Ketika
penyiksaan melanda kampungnya di Itali. Nenek moyangnya berhasil meloloskan
diri dengan baik. Ayahnya seorang doktor, yang meninggal saat Pestalozzi baru
berusia enam tahun. Kematian ayahnya menghasilkan dua dampak bagi Pestalozzi
dan ibunya. Pertama, warisan yang ditinggalkan oleh ayah cukup untuk hidup.
Kedua, keadaan rumah tangga yang dipimpin oleh ibunya dan pembantu yang bernama
Babeli ( Barbara Schmid). Selama masa kanak- kanak,keadaan tubuh Pestalozzi
lemah, bahkan ia sering sakit. Walaupun dirumah tidak ada seorang laki- laki
dewasa, peranan ini di ambil alih oleh kakeknya, seorang pendeta protestan yang
melayani jemaat di desa.
Ia
pernah menerjemahkan karangan Demosthenes yang begitu tinggi mutunya. Ia tidak
menjadi pendeta karena ia semakin ragu- ragu akan kesesuaian jiwanya dengan
sikapnya yang diperlukan untuk menjadi seorang pelayan. Tatkala ia menyampaikan
khotbah, ia mendadak berhenti karena lupa isinya. Lalu, perhatiannya beralih ke
bidang hukum. Karena keterlibatannya dalam kelompok politis.
Pestalozzi
memperoleh seorang istri yaitu, Nn. Anna Schulthess. Ia berasal dari keluarga
yang kaya. Karena itu, keluarganya menentang pergaulan Anna dengan Pestalozzi.
Ia tidak memutuskan hubungan mereka walaupun mereka tidak bertemu beberapa
bulan lamanya. Tatkala ia kembali kepada Anna, sesudah belajar selama sembilan
bulan. Orang tuanya menyuruh Anna untuk memutuskan pertunangan mereka. Akhirnya
ibu Anna memberi restunya asal kebaktian pernikahan ditunda selama dua tahun.
Pernikahan
mereka dirayakan di Gebensdorf pada tanggal 30 September 1769, saat Pestalozzi
berumur 24 tahun. Mereka pindah ke Neurof, tempat pertama dari ke tiga tempat
tinggal yang lain. Jacobli ( Jean Jacques) anak tunggal mereka lahir pada tahun
1780, Pestalozzi mendidik sesuai dengan asas yang termuat dalam Emile.
Selama
ibu Pestalozzi sakit, Pestalozzi putus asa karena kegagalan pengurusan
sekolahnya. Delapan belas tahun di Neuhof sesudah proyek sekolah kejuruan
gagal, yaitu dari taun 1780- 1798. Sekembalinya ke tanah airnya, ia meneruskan
pekerjaan menulis pada tahun 1798.
Pada akhir bulan Juli tahun 1799, tujuh bulan
sesudah meninggalkan Stanz, Pestalozzi mulai mengajar anak- anak paling miskin
di Burgdorf. Titik berat pendidikan di Burgdorf, adalah proses belajar yang
dipakai untuk memperoleh pengetahuan itu. Pada tahun 1804, lima tahun sesudah
sekolah di Burgdorf dimulai, sekolah ditutup dan anak- anak dipulangkan karena
alasan politis. Gedung itu, dijadikan balai desa. Harapan Pestalozzi terputus
untuk memperbaiki masyarakat dengan cara mendidik angkatan muda. Di Yvendun
teori dan praktek Pestalozzi mencapai puncaknya dan tugas mengajar secara aktif
semakin diambil alih oleh tim pengajar. Dengan gaya mengajar yang dipelopori
Pestalozzi lebih luas, karena alasan: 1. Ia sendiri adalah pendidikan yang
terkenal.2. hubungannya dengan Yverdon lebih baik. 3. Ia membuka SMA bagi
perempuan pada bulan Mei 1806. 4. Ia melibatkan orang tua dalam proses
memperbaiki institut. 5. Pestalozzi mendidik anak- anak, juga menyediakan
sarana untuk melatih bakal guru dalam metodenya.
B.
Dasar
Pendidikan
1.Pandangan
Teologi
Ia
memakai pengertian Iman Kristen untuk meyakinkan para pembaca bahwa pendidikan
sesuai dengan Iman mereka. Dalam tulisannya, lima pokok teologi yang mencolok:
1. Kepercayaan kepada Allah Bapa, 2. Alam sebagai pedoman, 3. Yesus,
Juruselamat Dunia, 4. Manusia, Jatidirinya, dan tugasnya,5. Pengalaman beriman
secara pribadi.
·
Kepercayaan kepada Allah Bapa
Semua orang adalah anak Allah, karena
dialah yang mengaruniakan hidup kepada mereka. Pestalozzi ingin mengutamakan
pentingnya percaya akan Allah Bapa, karena hubungan ini berbeda dengan hubungan
antar orang, hanya hubungan dengan Allah Bapalah yang bersifat abadi.
·
Alam sebagai pedoman
Alam perlu diketahui dan dihargai karena
Allah sendiri menikamati ciptaanNYA. Pestalozzi bermaksud mengetahui sifat anak
dan cara berkembang.
·
Yesus, Juruselamat Dunia
Dalam karya Pestalozzi jumlah nama Allah
disebut. Tampak dalam cara hidupnya yang dipengaruhi oleh contoh Yesus sendiri.
·
Manusia, Jatidirinya
Dibahas dalam tiga pokok, yakni: manusia
sebagai makhluk alam, manusia sebagai makhluk sosial, dan manusia sebagai
makhluk moral. Disamping ketiga jati diri itu, terdapat dua macam yang
mendasari semua pikirannya, yaitu manusia sebagai oknum yang percaya dan
manusia yang bernasib ilahi.
·
Pengalaman beriman secara pribadi.
Menurut Pestalozzi, pikiran teologisnya
tidak sebanding dengan kedalaman teologis yang kita kenal hal itu dibenarkan
khususnya oleh pembahasan dalam bagian manusia.
2.
Dasar Ilmu Jiwa
Pestalozzi
mendahului perkembangan dengan jalan menarik kesimpulan tentang kelakuan anak
berdasarkan percobaan sederhana di ruang kelas. Pokok dasar ilmu jiawa dibahas
dalam tiga tema, yaitu: 1. Sumber dasarnya, 2. Asas- asas belajar- mengajar, 3.
Pertumbuhan Iman.
·
Sumber dasarnya
Dengan pendekatan gaya modern kita
dipersiapkan membaca isi percobaannya. Pestalozzi meringkaskan tentang
perkembangan sebatang tumbuhan.
·
Asas- asas belajar- mengajar
Berdasarkan metode percobaan dan analogi
dalam alam, pestalozzi menemukan asas- asas belajar mengajar berikut: 1. Guru
membagi bahan ajar, 2. Anak belajar lebih baik kalau guru memusatkan perhatian
pada tugas belajar yang terbatas. 3. Anak belajar melalui panca indar. 4.
Pengetahuan diperoleh dari pancaindra digolongkan tiga kata, yakni: jumlah,
bentuk, dan bahasa. 5. Pengalaman belajar lebih berhasil bila guru
mengelompokkan pengetahuan yang sifatnya sama. 6. Kecenderungan ditarik oleh
keindahan alam dalam diri manusia.
·
Pertumbuhan Iman
Pestalozzi berusaha bertindak sebagai
ibu dan ayah dalam hubungan dengan anak- anak. Jadi perkembangan moral dan
rohani dalam dirinya.
C.
Asas-
Asas Pendidikan
1. Arti
Pendidikan
Pendidikan, suatu ilmu yang harus
mendasarkan pengetahuanyang paling dalam tentang tabiat manusia. Pendidikan
perlu dilaksanakan dari dua segi, yakni segi praktek dan segi teori. Pendidikan
akan mengubah mutu kehidupan. Anak miskin harus dididik dalam tiga bidang: 1.
Belajar menulis, membaca, dan berhitung, 2. Latihan mempersiapkan mereka dalam
sektor perindustrian, 3. Pengetahuan berporos pada akal dan tangan perlu ada.
Menurut pendekatan itu, teori bukan disusun terlepas dari praktek, melainkan
teori dibangun berdasarkan praktek.
2. Tujuan
Pendidikan
Tujuan umum: menghasilkan seorang yang
bijaksana dan bijak dalam kehidupannya, manusiawi dalam semua hubungan dengan
sesamanya manusia dan seorang yang hidup beriman sebagai makhluk yang
bergantung pada Allah. Pestalozzi memberi perhatian pada tujuan kurikuler dan
instruksional, yaitu memperoleh pengetahuan yang berporos pada jumlah, bentuk,
dan bahasa.
3. Lingkungan
Pendidikan
Menurut Pestalozzi ada tiga lingkungan
pendidikan, yaitu: 1. Rumah tangga, 2. Rumah dermawan, 3. Sekolah.
·
Rumah tangga
Pestalozzi menggambarkan rumah tangga
karena, lingkungan yang paling wajar dan penting bagi pendidikan. Dua pengajar
utama, yaitu sang ibu dan guru. Pestalozzi menyebutkan dua lagi, yaitu anak itu
sendiri dan pengalaman hidup.
·
Rumah Dermawan
Keluarga kaya yang tinggal di daerah
petani membuka rumah untuk mengajar mereka memperoleh pengetahuan dan
keterampilan yang menambah hasil bumi. Dermawan lain, mempunyai bengkel atau
pabrik. Anak- anak dapat menerima bimbingan dalam penetahuan dan keterampilan
yang berkaitan dengan bidang kerja.
·
Sekolah Dasar bagi Rakyat
Memberikan kesempatan belajar bagi
banyak anak. Sekolah Dasar yang dimaksud Pestalozzi perlu mewujudkan sifat
kerumah tanggaan yang baik. yakni persekolah hendaknya berlangsung suasana keriangan,
ketertiban, swadisiplin, latihan bagi akal, tangan dan badan serta kesalehan
sungguh- sungguh.
4. Pengajar
Dua pengajar utama, yaitu sang ibu dan
guru. Pestalozzi menyebutkan dua lagi, yaitu anak itu sendiri dan pengalaman
hidup.
·
Ibu
Dalam rumah tangga ia bertanggung jawab
melaksanakan pendidikan yang mustahil dilaksanakan oleh guru di sekolah. Ia
memberi perhatian besar kepada anak, hati ibu lebih berkuasa ditentukan oleh
hati dan bukan akal. Melalui kasih, ia mampu mencapai hasil yang tidak pernah
diperoleh oleh perintah penguasa manapun. Ibu menolong anak untuk menamai
pelbagai objek dalam rumah tangga.
·
Guru Sekolah
Guru yang tidak berhasil mempunyai
sifat- sifat berikut: ia angkuh, mementingkan diri sendiri, tidak mengenal swa
disiplin dan kehidupannya di luar ruangan sekolah.
Guru yang baik dikenal karena sudah ada
sifat seperti: terisi dengan roh kasih, hikmat, dan kemurnian. Guru yang baik
berusaha menemukan bakat yang tersembunyi dalam diri setiap anak dengan
mengembangkan rencana belajar sesuai bakat.
·
Si Anak
Anak adalah pengajar dalam arti bahwa
pengalaman itu menjadi miliknya secara pribadi. Pestalozzi mengutamakan
pemikiran yang berasal dari si anak sendiri. Gaya berpikir ini menjaga supaya
gagasan tidak diterima begitu saja oleh si anak.
·
Pengalaman Hidup
Pikiran ini didekati oleh dua sudut,
yaitu: pelajaran umum diajarkan kepada setiap orang. Dan terdapat pelajaran
yang diajar secara khusus kepada setiap orang. Tetapi, pengalaman hidup
mengajarkan bahwa bakat tidak berguna sebelum dikembangkan.
5. Pelajar
Pestalozzi memberi kesempatan belajar
kepada semua anak. Khususnya pada taraf sekolah dasar. Dua golongan pelajar
yang diperhatikan oleh Pestalozzi, yaitu anak perempuan secara khusus dan calon
guru.
·
Semua Anak
Pestalozzi membuka kesempatan belajar
bagi anak perempuan disamping laki- laki. Anak laki- laki ditampung disekolah
yang dibuka di Yverdun. Tetapi, tak lama kemudian ia membuka sekolah kedua
khusus anak perempuan. Pestalozzi belum puas dengan pendidikan tersebut, karena
tidak mendidik mereka secara khusus untuk memenuhi peranan sebagai ibu kelak.
Mengingat peranan keibuan satu- satunya panggilan hidup bagi anak perempuan.
·
Anak Perempuan
Anak perempuan dimampukan untuk
mengambil bagian yang mencolok dalam pendidikan. Pestalozzi berdalil bahwa
kalau motif mendidik perempuan adalah baik, tidak perlu mengorbankan sifat baik
apapun.
·
Calon Guru
Pestalozzi memperbaiki pendidikan, ia
menggiatkan pemuda menerima jabatan guru sebagai panggilan hidup. Pestalozzi
melihat pentingnya mencari bakal guru yang terbaik, mendidik, dan menjamin
pendapatan yang patut baginya.
6. Kurikulum
Pestalozzi berporos pada tiga
unsur,yaitu: akal, tangan, dan hati. Kurikulum mencakup pokok utama yang perlu
diketahui si anak, kurukulum yang berimbang, dalam arti akal, tangan dan hati
menerima bimbingan dan latihan yang sama bobotnya.
·
Kurikulum untuk Pendidikan Akal
Murid terlibat dalam pelajaran mengukur,
melalui mata pelajaran mengukur, menggambar sejumlah bentuk. Pelajaran
menggambar diajarkan melalui mata pelajaran menggambar. Pelajaran menulis
diajarkan melalui mata pelajaran menulis kata dan kalimat.
·
Kurikulum untuk Pendidikan Tangan
Digolongkan dua bentuk kegiatan jasmani:
olahraga dan kejuruan. Murid terlibat latihan jasmani di alam terbuka dan olah
raga. Kedua, anak dilatih keterampilan tangan.
·
Kurikulum untuk Pendidikan Moral
Keagamaan
Pestalozzi adalah orang yang beriman
secara operasional, teladan iman itu tidak lain dari kehidupan Yesus sendiri.
Anak- anak dibimbing untuk merasa betapa besarnya kasih Allah bagi mereka dalam
pengalaman di sekolah dan rumah tangga di dorong untuk bertindak secara adil
terhadap sesama dan secara moral dalam hidupnya.
7. Metodologi
Metode mengajar menurut Pestalozzi
berporos pada tiga unsur dari kurikulum.
·
Metode mengajar mata pelajaran
intelektual berhubungan dengan tiga jenis pengalaman yang dilambangkan dengan
tiga, yaitu: bahasa, bentuk, dan jumlah.
·
Metode mengajarkan mata pelajaran
jasmani
Pestalozzi membagi segala macam latihan
jasmani atas langkah tertentu.
· Metode mengajarkan mata pelajaran akhlak atau
agamawi
Peranan positif, guru wajib mengadakan
tugas belajar yang berporos pada pancaindra. Anak dibimbing untuk menilai
kelakuan yang ia laksanakan di ruang kelas, juga menolongnya memperbaiki diri.
PENUTUP
Mempelajari sejarah pendidikan adalah bagian yang penting
dalam kaitannya dengan menjadi pengajar yang sukses. Agar saat kita
diperhadapkan oleh peserta didik, diperlukan nya pemahaman tentang sejarah dari
bapak pendidikan dalam upayanya untuk membuat kegiatan pembelajaran menjadi
kegiatan yang hebat, diisi oleh orang-orang yang hebat dan hasilnya pasti akan
hebat juga.
Bukan hanya mempelajari bagaimana mendidik siswa/i
kita, tetapi juga belajar bagaimana proses pembelajaran yang akan kita lakukan
agar mereka mengerti dan kita mampu memahami tingkah siswa/i dalam tahap
pembelajaran. Memahami sikap, tingkah, tujuan, hingga pola pikir mereka.